dari celah gerimis aku ingin menyelinap menjengukmu, tiada rebah tubuh ini kehilangan kabar hingga bisa memelukmu. dan selalu kurenungi setiap pencarian makna, menangkap getar rindu ini, menujumu.
entah angin yang kutunggu, agar dapat rebah dalam gerai rambutmu mencari guratan-guratan luka. yang kau sematkan menjadi sebuah janji, tak bisa ku sentuh sebelum malam menjadi mimpi.
tapi airmataku seperti suaramu. dalam resah mampu menenangkan sepiku. mengalirkan galau. lalu menitiskan duka dalam tubuh ini. Isyarat itu pun menjelma menjadi doa kala berubah menjadi
puisi rindu tak kunjung selesai.
"Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan."
Langkah,
sayup gemuruh senja yang keruh
takkala garis nasib melengkung di ujung gerimis
memilih cakrawala serintik tak berlapis awan menjulang
kembali burung-burung selatan pada sepucuk ilalang rindu
Rezeki,
ucap pertama lalu pengampunan berbisik
suci menadah penyesalan
kurenung keikhlasan
menemui
-Mu
Pertemuan,
di akhir tahun dengan sembari nyanyian sepi
pagi menembus tabir-tabir sunyi
petang menempuh buana doa
malam menjelma penjara
menepi di ujung
letih
takdir mengerti
di akhir titik
:Mati
"Aku hanya sekedar memastikan pada jiwaku, bahwa keindahan-keindahan itu tetap ada dan tetap hidup serta bersemayam dalam kesunyian ragaku. Sekiranya hati itu harus merangkak dalam selubung kabut kegetiran atau pun berada dalam kematian panjang, penderitaanlah yang menuntun jiwaku semakin tegar dan bisa bertahan di sampai hari ini. - Duka Cita - Keluh Pesah - Kesedihan - Gelak tawa kebahagian sungguhku tak bisa di pungkiri rasa itu ."
Langkah,
sayup gemuruh senja yang keruh
takkala garis nasib melengkung di ujung gerimis
memilih cakrawala serintik tak berlapis awan menjulang
kembali burung-burung selatan pada sepucuk ilalang rindu
Rezeki,
ucap pertama lalu pengampunan berbisik
suci menadah penyesalan
kurenung keikhlasan
menemui
-Mu
Pertemuan,
di akhir tahun dengan sembari nyanyian sepi
pagi menembus tabir-tabir sunyi
petang menempuh buana doa
malam menjelma penjara
menepi di ujung
letih
takdir mengerti
di akhir titik
:Mati
"Aku hanya sekedar memastikan pada jiwaku, bahwa keindahan-keindahan itu tetap ada dan tetap hidup serta bersemayam dalam kesunyian ragaku. Sekiranya hati itu harus merangkak dalam selubung kabut kegetiran atau pun berada dalam kematian panjang, penderitaanlah yang menuntun jiwaku semakin tegar dan bisa bertahan di sampai hari ini. - Duka Cita - Keluh Pesah - Kesedihan - Gelak tawa kebahagian sungguhku tak bisa di pungkiri rasa itu ."
Kamis, Juni 04, 2009
Sabtu, Mei 16, 2009
Gerimis Itu

gerimis itu luka bait hujan yang
menangkup suara jerit butiran rindu
gerimis itu sobekan gelisah hati
terperangkap janji pada resah angin
gerimis itu selimut air mata
dingin maknai kisah sebagai mimpi
gerimis itu isyarat gigil puisi
dalam bahasa jemari yang hening
gerimis itu seharusnya kemesraan cuaca
memberi senyum pada duka membagi cerita tegar
gerimis itu mengemas perjalanan dibalik nama
menangkup suara jerit butiran rindu
gerimis itu sobekan gelisah hati
terperangkap janji pada resah angin
gerimis itu selimut air mata
dingin maknai kisah sebagai mimpi
gerimis itu isyarat gigil puisi
dalam bahasa jemari yang hening
gerimis itu seharusnya kemesraan cuaca
memberi senyum pada duka membagi cerita tegar
gerimis itu mengemas perjalanan dibalik nama
menghapus sunyi pada tampias kenangan
Jumat, Mei 15, 2009
gerak bulan semakin mesra mengajakku pulang
gerak bulan semakin mesra mengajakku pulang. melangkah menyusuri bintang ke bintang. mencari sosok keindahan metafora malam, dalam setiap perjalanan, dalam setiap kisah, mengakhiri setiap roman cerita. semilir angin melukiskan kerinduan embun pada padang rumput yang basah.
gerak bulan semakin mesra mengajakku pulang. heningnya wajah kota menyelimuti sunyi, tertata rapi bangunan tua, menjadi saksi bisu hikayat cinta. muram mataku menyusun kembali memori terlupakan oleh kenangan. seolah memiliki nikmat mereguk kisah, dalam menggilas lembar mimpi yang dingin.
gerak bulan semakin mesra mengajakku pulang. heningnya wajah kota menyelimuti sunyi, tertata rapi bangunan tua, menjadi saksi bisu hikayat cinta. muram mataku menyusun kembali memori terlupakan oleh kenangan. seolah memiliki nikmat mereguk kisah, dalam menggilas lembar mimpi yang dingin.
Sabtu, Mei 09, 2009
tangkaplah gemuruh sebagai tandaku
sisa gerimis semalam tinggalkan perih
rindu merintik dalam butiran luka
basah puisi tidaklah menyudahi jemari
menulis pada tanah yang lembab
semilir sunyi merebahkan hasrat, pada
hembusan sepotong awan tak sempurna
langit menuangkan deras gelisahmu
dari balik hujan kau mengirim kabar
tangkaplah gemuruh sebagai tandaku
hampa menampung setangkup janjimu
rindu merintik dalam butiran luka
basah puisi tidaklah menyudahi jemari
menulis pada tanah yang lembab
semilir sunyi merebahkan hasrat, pada
hembusan sepotong awan tak sempurna
langit menuangkan deras gelisahmu
dari balik hujan kau mengirim kabar
tangkaplah gemuruh sebagai tandaku
hampa menampung setangkup janjimu
Selasa, Mei 05, 2009
Membilas Kenangan
cinta, kau pernah bercerita padaku
awan tipis di gurat kaki langit berarak
melambat ke bibir senja, seperti
jejak perjalanan kisah kita
di tenggukmu sesayup dosa menyapa
serampan kerinduanku, tersematkan
ragu di balik punggungku menunggu
kebahagian sambil membilas kenangan
cinta, kini awan meresahkan jejak kita
menyimpan kekeliruan senja bercerita
biarlah kesedihan langit menumpahkan
kelemahan kisah kita di batas angin
awan tipis di gurat kaki langit berarak
melambat ke bibir senja, seperti
jejak perjalanan kisah kita
di tenggukmu sesayup dosa menyapa
serampan kerinduanku, tersematkan
ragu di balik punggungku menunggu
kebahagian sambil membilas kenangan
cinta, kini awan meresahkan jejak kita
menyimpan kekeliruan senja bercerita
biarlah kesedihan langit menumpahkan
kelemahan kisah kita di batas angin
Sabtu, Mei 02, 2009
Metafora Surat

berairkan air mata mengalir deras pada rongga dada alinea
sepercik sunyi dalam paragraf menyusuri keutuhan tangisku
melarut kata pilu celah jariku kepalkan debar rasa gelisah
seolah mengerti jemari ini merangkai sebait perpisahan
setegar barisan huruf menjamu larik-larik kisah kita
rangkaian doa terlantun dalam setiap mencatat namamu
wangi puisi melipat nafasmu membaca dukaku abadi
Jumat, Mei 01, 2009
Gamang Di Bibirmu
menjelang hari ulang tahun perkawinan kita
yang jatuhnya tepat pada dini hari nanti, kau
wanita setia penyulam nafasku dari celah-celah
bening alismu mengajariku caranya bersyukur
kini memasuki usia dua puluh empat tahun
kehadiranmu menemani bait-bait puisiku
melukiskan cemas, menata kata dalam menulis
makna kehidupan begitu roman kesederhana cinta
gamang di bibirmu menyimpan resah , mataku
mencuri pandang setiap gerak tubuhmu
bila kuingat tentang masa susah kita yang indah
mengembalikan catatan rindu terlupakan
Langganan:
Postingan (Atom)